Thursday, April 24, 2014

Masih ada Etika Politik (?)

Entah mengapa, akhir-akhir ini penulis mudah tersentuh oleh perilaku beberapa politisi yang hilir mudik muncul di TV. Ini arti harfiah, yang sebenarnya. Bukan sindiran apalagi majas ironi yang ditujukan pada perilaku pragmatis dan munafik dari kebanyakan politisi, namun benar adanya diantara sekian banyak politisi yang mengejar kekuasaan dengan berbagai cara dan usaha, masih ada yang mampu menjaga etika, cara serta tujuan politisnya untuk kebajikan yang lebih besar –setidaknya menurut penulis.

Bagian I
Perlu diketahui bahwa penulis bukanlah pengagum Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bahkan bisa dikatagorikan sebagai haters karena berbagai kebijakannya yang berseberangan dengan pandangan politik maupun kepentingan yang diusung SBY selama memimpin negeri ini. Di berbagai kesempatan, penulis sering mengkritik bahkan mencibir dan mencela segala tindakan SBY dalam memutuskan atau menyikap suatu issu vital, yang kadang terlalu “cengeng” , “lunak” dan sering “merajuk”, seolah-olah beliau bukan berasal dari kalangan militer.
Terlebih partai yang diusungnya, Partai Demokrat, yang sudah dua kali memenangi Pemilihan Umum, sering meneriakkan jargon anti-korupsi, padahal kenyataannya sekarang sebagain besar dari mereka bermasalah dengan korupsi, telah menjadi terpidana, maupun yang masih jadi tersangka. Ditambah lagi dengan ulah kader-kadernya yang terkadang tidak etis dan merusak citra Parta Demokrat sendiri, semisal Ruhut Sitompul, Sutan Bhatoegana, Benny K. Harman maupun Ramadhan Pohan, yang sering tampil di depan publik, untuk mempertontonkan “kepintaran” dan “intelektualitas” mereka, dengan menafikan fakta bahwa masyarakat sekarang kebanyakan sudah melek dan lebih pandai menilai, siapa yang omong besar, siapa yang berjiwa besar.
Dari rangkaian fakta-fakta tersebut, maka tak heran penulis adalah anti-Demokrat, termasuk tentunya SBY yang terkesan membiarkan kader-kadernya liar memberikan komentar ini-itu di media  massa- elektronik maupun cetak-, malah kadang terkesan lebay dan keterlaluan. Ingat perdebatan Ruhut Sitompul saat sidang Komisi III dengan Gayus Lumbun, yang sekarang menjadi Hakim Agung? Sampai mengeluarkan kata-kata –maaf-bangsat[1]? Atau debat Ruhut dengan Hotman Paris Hutapea di ILC yang mengeluarkan kata-kata kasar -maaf-monyet[2], atau perkataan rasis Ruhut kepada Boni Hargens, yang menyatakan dia Pengamat Hitam[3] dengan menganalogikannya kepada lumpur Lapindo?
Semuanya menunjukkan betapa kesantunan dan –katakanlah- pencitraan baik bagi Partai Demokrat menjadi tak berbekas tatkala masyarakat tahu bahwa Ruhut Sitompul berulah seperti itu dan fakta bahwa dia adalah bagian dari Partai Demokrat. Belum lagi persoalan lain yang sering dimunculkan oleh kader lain seperti Sutan Bhatoegana yang sering bersikap atau berkomentar “unik” di depan publik atau yang lainnya.
Sekarang pemilu telah usai, dan klaim-klaim masyarakat mendukung Partai Demokrat, rakyat sudah cerdas dan pintar memilih –Partai Demokrat- yang diklaim oleh Ruhut Sitompul, sudah terbukti keliru karena meskipun baru sebatas hitung cepat, Partai Demokrat hanya mendapat 9-10% suara nasional. Maka tumbanglah dominasi Partai Demokrat di legislatif, yang mungkin juga diikuti oleh Pemerintahan pasca pilpres nanti.
Hal yang membuat penulis kagum dan berbalik simpati kepada SBY – yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat- adalah, seketika setelah hitung cepat dikatakan usai, beliau mengucapkan selamat kepada PDI Perjuangan yang –secara hitung cepat- memenangi Pemilihan Legislatif di 2014. Penulis menilai bahwa ucapan seorang politikus yang menyatakan selamat kepada lawan politiknya, terlebih dia adalah petahana, yang tentunya masih memiliki kekuasaan atas penyelenggaran pemerintahan, memerlukan kesadaran diri dan kebesaran hati yang luar biasa. Karena politisi-politisi yang lain, kebanyakan tidak akan mau menerima hasil proses demokrasi yang bertentangan dengan pendapat dan kepentingan mereka. Berbagai upaya akan dilakukan, baik melalui jalur hukum maupun jalur lain yang “kasar”. Namun kebesaran hati SBY dalam hal menyikapi hasil Pemilihan Legislatif ini, cukup membuat penulis simpati dan mengakui bahwa beliau adalah politisi yang tetap berpegang teguh pada etika berpolitik dan berjiwa besar saat kalah ataupun menang, terlepas dari berbagai kekurangannya selama memimpin negara ini.

Hal kedua yang membuat penulis berbalik menjadi simpati kepada SBY adalah, sikap konsistennya terkait Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat. Di saat kader-kadernya yang lain secara sinis dan pragmatis menyatakan Konvensi Calon Presiden Parta Demokrat usai, karena perolehan suara Partai Demokrat tidak cukup untuk mengajukan sendiri Calon Presidennya, seperti pernyataan Nurhayati Ali Assegaf[4], Marzuki Alie[5] atau Andi Nurpati[6].
Konsistensi SBY untuk menyelesaikan Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat, di satu sisi mungkin ditanggapi sebagai suatu kesia-siaan politik. Sebab dari kalkulasi perhitungan suara yang ada, sangat kecil kemungkinan Partai Demokrat bisa mengajukan siapapun pemenang Konvensi, menjadi Calon Presiden 2014-2019. Namun, keputusan SBY tersebut harus dipuji sebagai suatu pendidikan politik agar tidak plintat-plintut dalam membuat suatu sistem, agar menyelesaikan sistem yang telah dibuat dan tidak setengah-setengah.
Secara faktual, dapat diperkirakan bagaimana perasaan Gita Wirjawan yang –sengaja- mengundurkan diri dari kursi empuk Menteri Perdagangan hanya karena ingin fokus di Konvensi Calon Presiden, tatkala misalnya SBY menyatakan Konvensi terhenti di tengah jalan. Atau bagaimana sikap Dahlan Iskan yang sekalipun tidak mundur dari jabatan Menteri Negara BUMN, tetapi telah digadang-gadang bakal memenangi Kovensi tersebut, terlepas dari pencitraan dirinya atau tidak? Atau bagaimana konsep segar dan kerja keras dari Anies Baswedan yang tak lelah mengajarkan, mendidik dan memberikan pemahaman politik berbeda dan anti-mainstream dengan sasaran kaum muda yang selama ini apatis politik karena telah muak dengan kenyataan politik & politikus yang ada selama ini. Apakah beliau tidak menyesali keputusannya terjun dari dunia putih akademisi ke dunia abu-abu nan hitam dunia politik, demi sebuah gerakan pembaruan bernama “turun tangan”?
Saat SBY menyatakan bahwa Konvensi Calon Presiden tetap dilanjutkan, saat itulah penulis menyadari bahwa kenegarawan-an SBY, keetisan SBY dalam berpolitik dan konsistensi SBY dalam menjalankan apa yang dirancangnya, memang tak hanya retorika belaka. Dan hal itu, herannya cukup membuat penulis berbalik simpati kepada beliau, setelah berbagai hal yang penulis nilai minus dari sosoknya sebagai seorang pemimpin negeri. Tak banyak sosok politisi seperti SBY.

Bagian II
Meratanya perolehan suara partai berbasiskan Islam di Pemilu 2014, di satu sisi  menimbulkan wacana positif untuk membangun koalisi diantara mereka, tapi di sisi lain berbenturan dengan pragmatisme dan kepentingan mereka sendiri untuk tetap mempertahankan posisi dan prestise kekuasaannya.
Amien Rais tak diragukan lagi adalah salah satu tokoh sentral di era reformasi, baik dalam kedudukannya sebagai salah satu petinggi ormas Islam pada saat itu, maupun sebagai Ketua MPR kemudian. Atas konsepnya, muncullah poros tengah yang berhasil mendapuk Abdurrahman Wahid menjadi Presiden, yang bisa jadi dikatakan oleh kalangan dari PDI Perjuangan sebagai upaya penjegalan Megawati menjadi Presiden pada saat itu.
Melihat geliat politik saat ini, agak mengherankan juga setelah sekian lama menghilang dari hingar-bingar perpolitikan Indonesia, Amien Rais tiba-tiba turun gunung melakukan pertemuan dengan partai-partai Islam di rumah salah satu pengusaha[7]. Dan hal tersebut langsung ditanggapi negatif oleh beberapa kalangan yang dari awal sudah menggadang-gadang calon presidennya sendiri[8]. Meski jelas, Amien Rais membantah dan menyatakan bahwa pertemuan itu bukan terkait sosok Calon Presiden, melainkan murni koalisi demi penguatan dan kebajikan Indonesia Raya.
Mungkin penulis tidak menilai pernyataan kehendak Amien Rais itu dari sudut pelik yang bermacam-macam dan sarat praduga politik. Namun saat melihat sosok sepuh Amien Rais di televisi, yang –menurut penulis- minus kepentinga pribadinya sendiri, memang perlu disikapi secara baik sangka. Sebab apa yang hendak dicari lagi bagi sosok sepuh seperi Amien Rais, masak iya masih mencari keuntungan dari politik? Atau masih mencari jabatan, apakah masih relevan dengan usia se-senior itu? Sehingga iktikad dari Amien Rais serta partai-partai Islam tersebut hendaknya disikapi dengan anggapan bahwa memang tujuan utamanya adalah demi perbaikan bangsa, serta keterwakilan kepentingan kalangan Islam semata, bukan atas kepentingan pragmatis semata. Sebab partai Islam selama ini, sudah “terkenal” tidak mau bersatu, dan terikat dengan pragmatisme masing-masing, yang kadang terlalu negotiable dan malah memuakkan.


Lantas, saat ada tokoh yang menyatakan dan menggagas disatukannya kepentingan Partai Islam demi kepentingan yang lebih besar, masak kita malah berburuk sangka dan menuding negatif hanya karena dugaan kompromi poltik dan bagi-bagi kekuasaan? Ingat, pada saat Amien Rais menjadi Ketua MPR ± 16 tahun yang lalu, banyak dukungan yang mengarah kepadanya agar mencalonkan diri jadi Presiden. Namun dengan kearifannya, beliau malah mendorong Abdurrahman Wahid untuk menjadi Presiden – meskipun kemudian dilengserkan-, bagaimana bisa seorang Muhammadiyah malah mendorong seorang NU menjadi Presiden saat ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk itu? Tentunya motif politik seperti itu tidak bisa dianggap karena adanya kompromi politik atau tawar menawar politik diantara keduanya. Itulah etika politik, seperti halnya yang saat ini –penulis nilai- tengah dilakukan oleh Amien Rais. Pendewasaan politik, tanpa kepentingan pragmatis.
Ya, Amien Rais di usianya yang sudah sepuh masih memiliki kepedulian dan keinginan agar Partai-partai politik berbasiskan Islam mau bersatu, menepikan sejenak kepentingan politik pragmatis yang kental tawar-menawar kedudukan. Namun sayangnya, hal tersebut ditanggapi dingin, tak hanya oleh elite politik, namun juga kebanyakan masyarakat, yang menilai tindakannya itu karena pengaruh kekuasaan semata, pengaruh kepentingan semata. Tanpa benar-benar memahami dan memaknai sebenarnya motif apa yang mendasarinya.
Kompromi politik kini, kadang memang menafikan akat sehat dan hati nurani. Saat yang ada dalam pikiran hanya kekuasaan dan posisi menguntungkan, maka se-jijik apa pun hal yang ditawarkan, pasti akan diterima asalkan menghasilkan kontraprestasi yang sebanding. Sebaliknya, sebaik apa pun konsep, saat dipandang tidak akan menguntungkan, maka akan ditolak mentah-mentah dan dianggap sebagai konsep usang, naif dan utopis belaka.
Berbagai gagasan Amien Rais memang kebanyakan anti-mainstream, dan mengejutkan. Dan hal itu patut diakui juga kebanyakan tidak mendapatkan banyak dukungan apalagi keuntungan bagi dirinya maupun masyarakat kebanyakan. Namun bagi mereka yang rindu akan kemapanan sebuah konsep– bukan sosok-, “kebajikan yang lebih besar” tentunya gagasan itu patut didukung. Seperti halnya apa yang saat ini diwacanakan olehnya dan pimpinan partai-partai Islam, disikapi dengan bijak dan dipahami secara utuh. Dengan sejenak menepikan pragmatisme untuk kepentingan pribadi semata. Semoga saja itu tertanam dalam di kepala elite-elite politik kita.


No comments:

Post a Comment