Saturday, July 04, 2009

Telunjuk

Adalah fitrah bahwa segala hal berpasangan. Sebuah rencana sempurna dari Sang Maha Pencipta. Salah satu alasannya mungkin adalah agar keduanya saling melengkapi, sebab diakui atau tidak, pastilah ada setitik kelemahan dari kekuatan, pun halnya ada senoktah kelebihan dari sebuah kekurangan.

Aksi berpasangan dengan reaksi, meski pada saat-saat tertentu agak sukar membedakan keduanya, apakah merupakan aksi? atau hanyalah sebuah reaksi. Sesulit menentukan konklusi dari sebuah diskusi tak berujung bertajuk "lebih dulu ayam, atau telur?". Pelajaran moral paling penting adalah prinsip keseimbangan, bahwa ada aksi tentunya menuai reaksi, terlepas dari bentuk apapun itu.

Tak terasa sudah kurang lebih 3 bulan hiruk pikuk pesta demokrasi menjauh dari telinga kita. dan kini, gemanya kembali terasa menjelang pemilihan presiden. Bersyukurlah kita, sebab konsensus anggota dewan kita yang terhormat mensyaratkan perolehan suara yang cukup besar untuk bisa maju di PILPRES. Alangkah malangnya masyarakat kita bila bilangan pasangannya sebanyak jumlah parpol yang berpartisipasi dalam PEMILU LEGISLATIF April kemarin. Lebih malang lagi andaikata elit politik yang banyaknya menyaingi jumlah hari dalam setahun, berlomba-lomba dan berebut posisi sebagai pemimpin semuanya.


Namun bersuyukurlah KPU hanya meloloskan 3 pasangan calon yang berhak maju di PILPRES 8 Juli nanti. Meski persoalan tak berhenti di situ, sebab sedikitnya kontestan ternyata tidak mereduksi kadar kebingungan masyarakat untuk memilih pemimpin mereka di 5 tahun ke depan. Jangankan yang buta informasi atau apatis, yang melek informasi pun terkadang bingung dengan pilihan-pilihan yang ada. Saling klaim bahkan saling seranglah yang menyebabkannya.

Si A mengatakan, pemerintah telah gagal menyejahterakan rakyat karena sistem ekonomi yang dipakai tidak menguntungkan rakyat. Si B menyatakan, jangan asal mengumbar janji-janji surga, yang penting adalah telah berbuat bukan hanya berwacana. Si C menyatakan, banyak hal yang harus dibenahi dan diperbaiki, agar masyarakat kita lebih baik dan mandiri.

Saling kritik, saling serang dan saling klaim sudah merupakan pertunjukan basi tiap hari di televisi. Entah mana yang aksi, entah mana yang reaksi, yang jelas, masyarakat -setidaknya penulis sendiri- malah semakin bingung dengan pilihan-pilihan yang ada. Hanya, sesuai dengan kaidah Islam, bila pilihan-pilihan yang tersedia adalah madharat, maka pilihlah yang paling sedikit kadar madharatnya.


Telunjuk berfungsi untuk menunjuk. Sebagian besar berkonotasi negatif, karena kerap digunakan untuk hal-hal yang tidak menyenangkan. Memerintah, menuduh, menuding atau mungkin kadang mengupil. Meski kerap pula dipakai untuk hal yang bermanfaat, seperti menunjukkan arah. Itulah yang sering tertangkap memori kita akhir-akhir ini, saling tunjuk dan sebagainya. Aku benar, kamu salah. Saya tepat, anda keliru. Padahal tanpa disadari, hanya satu jari yang dipakai menunjuk atau menuding orang lain. Sedangkan jari lainnya dapat dikatakan menunjuk kepada diri sendiri.


Berkaca pada kebiasaan kaum ibu -atau mungkin juga kaum bapak- tentang hal itu. Sekitar sore, kebiasaan itu sering dilakukan. Entah dalam kesempatan arisan, acara keluarga, atau bahkan di sela-sela kegiatan keagamaan. Perbincangan seperti: "saya nggak suka sama ibu anu, karena hobinya menggunjingkan orang lain" kerap dijawab dengan: "iya, ibu anu memang comel, ada saja yang dikomentarin pada tiap orang". Kita dapat menilai sendiri, sebenarnya siapa yang senang bergunjing. Tergantung penilaian kita sendiri. Apakah ibu yang dipergunjingkan? atau ibu-ibu yang sedang membahas orang yang suka menggunjing itu?

No comments:

Post a Comment