Thursday, March 19, 2009

TRIK POLITIK

Memilih Calon Legislatif lebih selektif

1. Pastikan anda seluk-beluk calon yang akan anda pilih. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Sudah bukan masanya lagi memilih seseorang yang datang tiba-tiba, atau tertipu dengan ketampanan, kegagahan, wibawa atau kecantikan dari calon legislatif.

2. Jangan terbuai janji-janji muluk, pilih yang realistis dan mengena dengan kondisi anda atau masyarakat sekitar anda. Ada perbedaan pemahaman tentang janji bagi para calon legislatif, mungkin kita menganggap janji adalah utang, tapi percayalah mereka itu PELUPA.

3.Distribusikan suara ke partai kecil. Perubahan cenderung hadir dari wajah baru, bukan status quo. Meskipun beresiko terhadap tingkat profesionalismenya, namun bukankah perubahan adalah suatu hal yang patut diperjuangkan?

4. Wanita lebih bisa dipercaya daripada pria. Walau tidak selalu benar, tapi jarang sekali koruptor itu seorang wanita, atau belum ada kasus video porno yang melibatkan legislatif (dengan artis atau sekretaris pribadinya) dimana legislator wanita sebagai aktor utamanya khan?

5. Pilihlah rakyat, bukan pejabat atau aristokrat. Karena tajuknya pemilihan wakil rakyat, maka yang harus dipilih adalah rakyat biasa, bukan aristokrat (menak, priyayi) atau pejabat. Mereka (aristokrat atau pejabat) tidak pernah tahu apa yang diinginkan oleh rakyat, karena tidak pernah merasakan penderitaan atau sengsaranya menjadi rakyat.

6. Wajah memancarkan pribadi. Gemuk, tampak makmur, culas, bahkan angkuh, tidak pernah mengalami kesengsaraan, jelas bukan plihan. Agak sensitif memang, tapi berikanlah kesempatan kepada pribumi seperti, Mang Usep, Neng Inah atau Ceu Emeh untuk bisa menjadi representasi suara rakyat. Mereka adalah potret hidup rakyat kebanyakan

7.Semakin besar nomor urut, semakin bisa dipercaya dia. Pada parpol-parpol besar sudah bukan rahasia kalau nomer urut diperjualbelikan. Logikanya orang paling kaya, paling dekat dengan parpol (tapi tidak dekat dengan rakyat) akan mendapatkan nomor urut kecil. Jadi, yang mendapat nomor urut buncit adalah ecek-ecek, seperti kita-kita ini.

8. Calon harus satu daerah dengan kita, supaya aspiratif. Bukan titipan atau pesanan partai politk. Buat apa milih calon legislatif yang bukan berasal dari daerah kita, bukankah tujuan mereka dipilih jelas, agar bisa menyuarakan aspirasi rakyat dan daerah darimana ia berasal?

9. Jangan tertipu dengan gelar yang berderet. Orang-orang pintar justru berbahaya. Pernah dengar pepatah lama yang mengatakan, orang bodoh yang jahat, berbahaya. Tapi orang pintar yang jahat, sangat berbahaya. Rentetan gelar, mulai dari Prof, DR SH, SE, MSi dsb bukan jaminan mereka itu amanah. Justru semakin pintar orang, semakin lihai juga dia memanfaatkan otaknya untuk menipu rakyat.


10. Bila mungkin, buat kontrak politik dengan mereka, supaya ocehan mereka terekam dengan baik. Ini jurus pamungkas, bila kita tidak ingin kecolongan. Kalau perlu diatas surat perjanjian bermaterai dengan disaksikan oleh Notaris. Supaya kekuatan hukumnya jelas, dan bila ingkar janji bisa dimejahijaukan karena wanprestasi, SETUJU?



Sekadar ingin mengingatkan betapa pentingnya kita memilih, namun adalah hak juga untuk tidak memilih. Sebab, yang menentukan berdiri tegaknya negara adalah rakyat.

Tapi ieu mah ngan pangeling-eling wae, dianggap sukur, teu dianggap nya teu naon-naon. Kuring mah ngan ukur cocoretan biasa.


Cag ah

1 comment:

  1. sabagian bisa bener, sabagian bisa salah tah kang, misalna ngeunaan nomer urut emang bisa we no badag teh hasil jual beuli sapi (ata beurit), tapi nomer panyocok ge bisa we lauk buruk milu mijah,,,
    cik sugan aya info kang caleg urang majalengka nu amanha nu jujur jeung kapabeul keur di pusat saha nya?

    ReplyDelete