Saturday, November 11, 2006

ASAL -USUL-USIL: MEMBACA?? EMANG PENTING???

Perintah yang pertamakali diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah membaca. IQRO, begitulah wahyu pertamam yang disampaikan oleh Malaikat Jibril 17 Ramadhan di Gua Hiro. Perintah tersebut diturunkan jauh-jauh hari sebelum ada pemikiran-pemikiran progresif dari para profesor atau ahli pendidikan tentang urgensi membaca dalam kehidupan manusia.

Berdasar pada itu, berapa kali dalam hidup kita telah dicekoki bahwa kita harus membaca, berulangkali, bahkan sampai anak-anak kita mendapat penjelasan yang sama dari guru-guru (agama) mereka, sama seperti apa yang dijelaskan oleh guru kita dahulu, bahwa perintah pertamakali adalah membaca. Dan sampai sekarang, membaca adalah suatu hal yang jarang (atau kurang) kita sukai.

Kita reduksi pengertian membaca, sehingga yang dimaksud membaca disini adalah secara harfiah membaca. Meskipun sudah jauh-jauh hari pemerintah Indonesia mencanangkan gerakan membaca, namun tampaknya hal ini hanya terkonsentrasi pada beberapa daerah saja, yang tingkat pendidikan dan ekonominya cukup maju. Hanya daerah yang memiliki akses pendidian yang maju saja yang bisa menerapkan program gemar membaca tersebut. Sementara daerah yang jauh dari itu semua, ataupun daerah yang biasa-biasa saja tetap tak terlalu memandang penting keberadaan buku di tangan kita.

Sebagai daerah yang baru (akan) maju, Majalengka tentunya diharapkan memiliki keinginan untuk maju. Karena telah terang dijelaskan, bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bila mereka tidak mengubah sendiri nasibnya. Pertanyaannya adalah hal apa yang telah atau akan dilakukan oleh Majalengka utnuk mencapai kemajuan itu? Apakah dengan adanya pembangunan Bandara Internasional?? Tentunya merupakan suatu kebanggaan bila Majalengka menjadi dikenal karena memiliki Bandara bertaraf (dan bertarif) Internasional, karena memang sebelumnya nama Majalengka tidak dikenal sama sekali oleh orang-orang luar Jawa Barat apalagi Indonesia (kecuali tentunya Alm. Salik Firdaus yang pernah sekali memunculkan nama Majalengka dalam berita). Apalagi yang bisa diketahui oleh masyarakat Indonesia tentang Majalengka?, apakah cukup Bandara Internasional itu saja?
Selama menempuh studi di sebuah PTN di Malang, teman-teman saya tidak satupun yang mengetahui daerah Majalengka, sehingga singkatnya orang-orang Jawa Barat yang numpang kuliah di Malang dianggap orang Bandung (walaupun ia berasal dari Majalengka, Garut, Subang dll), karena memang nama Bandung jauh lebih dikenal daripada daerah-daerah lainnya di Jawa Barat. Dan semakin hari, semakin terbersit keinginan untuk menunjukan keberadaan dan keinginan agar Majalengka dikenal oleh teman-teman saya di Malang ini.

Ketika berada di Malang, banyak sekali ide dan keinginan untuk mengubah Majalengka menjadi seperti Malang. Banyak hal yang sepertinya cocok untuk diterapkan di Majalengka terdapat di Malang. Salah satunya Perpustakaan Kota. Seingat saya, selama 3 tahun sekolah di Majalengka (saya sekolah di SMU N 1 Majalengka), tidak pernah sekalipun saya menemukan tempat/gudang buku yang bisa dibaca (tentunya bukan persewaan komik). Selama sekolah di sana, memang belum ada kehendak yang nyata dari pihak Kabupaten, maupun sekolah saya sendiri untuk menggalakkan membaca. Koleksi perpustakaan di SMU saya itu juga serba terbatas, meskipun mungkin agak lebih mendingan dibandingan SMU lainnya, tapi menurut saya masih kurang cukup memenuhi kebutuhan orang-orang akan buku.

Hal ini diperparah dengan tidak adanya (atau tidak jelasnya) sumber yang dapat dijadikan tempat menemukan berbagai hal tentang Majalengka, dengan kata lain tidak ada instansi tersendiri yang menangani arsip tentang Majalengka. Orang Majalengka seperti saya akan sangat kebingungan kemana akan mencari literatur tentang Majalengka, apakah ke Internet? Beribu-ribu kali mengakses dengan kata kunci Majalengka ke Internet, yang akan anda temui paling tentang profil PEMKAB Majalengka, atau BAPEDDA Majalengka, atau berita-berita dari Pikiran Rakyat, Republika, dll. yang sudah kadaluwarsa sedikitnya satu tahun ke belakang. Lalu bagaimana Majalengka akan diekspose, sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan Majalengka sendiri, kurang bahkan jarang ada yang bisa dilihat, sekalipun oleh orang Majalengka sendiri.

Majalengka diibaratkan seorang anak saudagar yang kaya modal, namun karena kesederhanaan dan kepraktisan pemikirannya, maka dia tidak tahu bagaimana memanfaatkan modalnya secara optimal, sehingga bisa menguntungkan dan mendatangkan manfaat yang tinggi baginya. Dilihat dari sumber daya alam, mungkin Majalengka memiliki berbagai macam kekayaan yang bisa menjadi faktor pendorong kemajuan, namun kembali lagi ke teori ekonomi bahwa keunggulan komparatif lebih bisa diandalkan dibandingkan keunggulan mutlak. Sumber Daya Manusia di Majalengka belum bisa diharapkan memenuhi ekspektasi kemajuan Majalengka, setidaknya untuk 5 tahun yang akan datang. Masyarakat Majalengka masih bergumul dengan pemikiran stagnan dan hal-hal biasa, belum ada keinginan-keinginan (setidaknya dari pemerintah kabupaten) untuk memunculkan hal-hal progresif yang bisa meningkatkan taraf hidup dan kualitas sumber daya alam yang dimiliki. Salah satunya adalah seperti saya sebutkan tadi, pengenalan akan Majalengka ke dalam dan ke luar, serta akses masyarakat untuk lebih meningkatkan keunggulan komparatifnya, diantaranya dengan cara menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan proses pembentukan masyarakat yang (lebih) berkualitas. Salah satunya Perpustakaan Kota.

Kenapa harus Perpustakaan Kota? Di Majalengka, sulit menentukan dimana letak pusat informasi, sebuah tempat dimana masyarakat bisa menggali informasi dan hal-hal baru lain yang telah, sedang dan akan terjadi. Pemerintah Kabupaten mungkin bisa berdalih, telah ada Dinas yang menangani hal tersebut, misalnya Kantor Arsip Daerah, namun kenyataannya fungsi publikasi dan informasi yang dilaksanakan serba terbatas dan hanya diberikan kepada orang-orang tertentu dan sejumlah syarat-syarat. Masyarakat yang homogen dengan pola kehidupan yang masih terpakem oleh pola tertentu, lebih efektif mendapatkan pelayanan yang bersifat terbuka, tidak berbelit-belit dan tanpa biaya. Adanya akses ke sebuah pusat informasi seperti perpustakaan, setidaknya akan menarik perhatian masyarakat untuk lebih mau dan berani mencari informasi tentang berbagai hal. Pelayanan perpustakaan yang beralur searah dari pemerintah akan membuat masyarakat merasa terpanggil dan terdidik oleh keberadaan pemerintah. Sebaliknya pola pelayanan yang bersifat timbal balik seperti misalnya akses ke Kantor Arsip, memerlukan tekad yang kuat dari masyarakat tertentu yang menghendakinya, sebab terikat pada prosedur formal dan lain-lain yang telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan.

Keberadaan Perpustakaan Kota menajdi sebuah kebutuhan, ketika pemikiran masyarakat menjadi lebih cepat berubah dan dinamis. Tanpa adanya akses informasi yang selalu berkembang, kita akan senantiasa tertinggal satu, dua bahkan beribu-ribu langkah dari daerah-daerah lain. Tidaklah menjadi soal bila Majalengka hanya memiliki satu buah pusat perbelanjaan yang (cukup) elit, akan tetapi kita tidak boleh tertinggal dalam hal keberadaan sarana berkaitan dengan pemberdayaan dan peningkatan sumber daya manusia. Saya percaya bahwa sebagian besar masyarakat Majalengka menginginkan adanya perubahan mendasar dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum, setelah dalam kurun waktu yang lama terkurung dalam stagnansi pemikiran dan pembangunan daerah.


Hal tersebut hendaknya bukan hanya menjadi wacana yang dibicarakan orang- perorang saja. Majalengka memiliki sumber daya manusia yang tersebar di berbagai daerah yang dapat dijadikan motor ke arah perubahan itu. Hitung-hitungan statistik menyajikan fakta bahwa banyak mahasiswa asal Majalengka yang belajar di daerah lain, belum lagi mahasiswa di Majalengka sendiri, bukankah itu modal awal dari perubahan tersebut?

Kegemaran membaca agaknya merupakan hal baru yang jarang ditemui di Majalengka. Hal tersebut hanya dipunyai dan digemari oleh orang-orng tertentu saja, yang memang profesinya menuntut untuk selalu tanggap dan up to date dengan berbagai perubahan yang terjadi. Misalnya anggota Dewan kita yang terhormat, atau para pejabatdi lingkungan Pemerintah Kabupaten. Belum pernah saya melihat ada sopir yang sembari menunggu penumpang membaca koran, atau pelanggan warung makan yang membaca surat kabar yang sengaja disediakan oleh pemilik warung-warung nasi. Merupakan hal miris bila dibandingkan dengan dianugerahkannya penghargaan kepada Bupati Majalengka, penghargaan karena pemberantasan buta huruf. Apakah cukup dengan pemberantasan buta huruf saja? Alangkah lebih baiknya bila kemudian langkh itu dilanjutkan dengan digalakkannya program gemar membaca bagi semua pihak. Caranya? Bisa melalui berbagai media, bisa dengan Perpustakaan Keliling, pendistribusian buku ke berbagai sekolah baik tingkat dasar, menengah maupun lanjutan. Dan yang paling prestisius tentunya adalah dengan mendirikan sebuah Perpustakan Umum di tengah-tengah Kota Majalengka yang strategis, mudah dijangkau masyarakat serta mampu memberikan berbagai informasi tentang Majalengka serta Indonesia bahkan dunia sekalipun. Dengan APBD 300 milyar lebih, sungguh mengkhawatirkan bila Majalengka tidak memiliki alokasi dana untuk itu, atau minimal pengadaan dan penambahan buku-buku di setiap perpustakaan sekolah di Majalengka.

Namun itu semua berpulang kepada itikad baik dari Pemerintah Kabupaten Majalengka sendiri, dengan sisa waktu kurang lebih 2 tahun sebelum PILKADA selanjutnya, adakah kehendak untuk memperbaiki tatanan kehidupan masyarakat Majalengka, sebagai pengabdian dan persembahan kepada masyarakat Majalengka sebelum berakhirnya masa jabatan, atau sebagai proyek mencari popularitas untuk dapat terpilih kembali dalam PILKADA yang akan datang, atau merupakan proyek pengadaan (dan penghabisan) dana sebelum berakhirnya masa jabatan. Apapun tujuannya, sekiranya keinginan untuk berubah itu terlaksana, merupakan pemberian yang tak ternilai bagi masyarakat, dan masyarakat Majalengka pada umumnya akan berterima kasih untuk itu. Bersama kita menuju Majalengka yang Cerdas, Transparan dan Berkepribadian.


“POTENSI YANG SEMAKIN DILUPAKAN ADALAH KEMAMPUAN UNTUK MENDENGARKAN DENGAN BAIK”

MAJALENGKA UNTUK SELURUH MASYARAKAT MAJALENGKA.


adhef_faz (rakyat biasa yang ingin maju)

1 comment:

  1. Sofyan kasep10:02 PM

    memang sangat penting untuk menggairahkan budaya membaca di majalengka teh. yah, ka bapa2 di pemda eta teh kedah janten perhatian kusabab di majalengka hampir teu aya nu namina perpustakaan umum teh, ari rental vcd ngabalatak..

    ReplyDelete